Tampilkan postingan dengan label Story Daerah Istimewa jogjakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story Daerah Istimewa jogjakarta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Oktober 2015

KESENIAN TARI BEDHAYA DAERAH YOGJAKARTA

Tari Bedhaya datang dari keraton di Jawa Tengah, dalam lingkungan keraton Yogjakarta. Tari ini juga bukan sembarang tari yang digunakan hanya untuk menghibur, tetapi lebih dari itu tari Bedhaya Ketawang memiliki makna-makna tertentu dan hanya di hadirkan pada moment-moment tertentu sehingga membuatnya menjadi sangat special.
Dalam perspektif budaya Jawa, istilah bedhaya dan srimpi menyiratkan makna yang sangat penting.Makna penting itu bukan saja bagi kalangan ningrat Jawa (para priyayi trahing aluhur), melainkan juga bagi masyarakat petani Jawa. Di lingkungan istana, Bedhaya dan Srimpi dipahami sebagai genre tari puteri.Jawa yang merefleksikan tingkat keteraturan, keselarasan, kehalusan budi, dan pengendalian diri yang tinggi. Sementara di kalangan petani Jawa, istilah tersebut dipakai untuk memberikan identifikasi terhadap bentuk atau genre tari yang dikualifikasikan sebagai tari alus. Oleh karena itu, tari Gambyong, Bondhan, atau Golek oleh para petani ada kalanya disebut dengan istilah bedhaya dan srimpi. Satu hal yang menarik adalah, baik di dalam lingkungan istana maupun di kalangan petani, istilah Bedhaya dan Srimpi tidak semata-mata dipakai untuk menunjukkan perbedaan bentuk, struktur, atau gaya suatu tari dengan tari yang lain, melainkan juga dipakai untuk memberikan suatu komitmen terhadap kualitas estetik dan tingkat kedalaman muatan filosofisnya. Sudah barang tentu ini tidak harus diartikan bahwa dasar-dasar estetika tari istana sama dengan dasar-dasar estetika tari rakyat. Masing-masing memiliki perbedaan tergantung pada latar belakang budaya, tradisi, dan cara berfikir masyarakatnya tentang seni.

Kamis, 24 September 2015

KESENIAN TARI ANGGUK DAERAH YOGJAKARTA

Tari Angguk adalah tari tradisional yang berasal dari Kulon Progo Yogyakarta. Dalam tarian ini menceritakan kisah tentang Umarmoyo-Umarmadi dan Wong Agung Jayengrono dalam Serat Ambiyo. Tarian ini dimainkan secara berkelompok oleh 15 penari wanita yang berkostum menyerupai serdadu Belanda dan dihiasi gombyok barang emas, sampang, sampur, topi pet warna hitam, dan kaos kaki warna merah atau kuning dan mengenakan kacamata hitam. Tarian ini biasanya dimainkan selama durasi 3 hingga 7 jam. Tarian Angguk diperkirakan muncul sejak jaman Belanda, yang digambarkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan setelah panen padi.
Tari Angguk adalah kesenian khas daerah Kulon Progo. Kesenian ini merupakan satu dari sekian banyak dari jenis kesenian rakyat yang ada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Tarian Angguk diperkirakan muncul sejak jaman Belanda, yang digambarkan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan setelah panen padi.
Kesenian Angguk ini disertai dengan pantun-pantun rakyat yang berisi nasehat yang dinyanyikan menggunakan cengkok tembang Jawa. Salah satu hal yang sangat menarik dalam kesenian ini yaitu adanya pemain atau penari yang "ndadi" atau mengalami kesurupan pada saat puncak pementasan.

Selasa, 22 September 2015

KESENIAN TARI BEDHAYA SANG AMURWABHUM DAERAH YOGJAKARTA

Tari Bedhaya Sang Amurwabhumi itu diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X setahun setelah dinobatkan menjadi raja Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Karya seni tari yang dicukil dari serat Pararaton itu mengkisahkan pergulatan asmara serta kepemimpinan yang dipersembahkan Sultan HB X untuk mengenang ayahanda, Sri Sultan HB IX. Pergelaran tari itu memperlihatkan gerak dan penataan koreografis tanpa cacat dalam menggambarkan kisah Ken Arok dan sang Pradnya Paramitha Ken Dedes di sebuah masa yang berbunga dan padat politik kerajaan itu. Menari memang tak hanya sekedar menghafal gerak. Menari adalah efek ekspresi jiwa, sehingga dengan begitu seluruh tubuh jumbuh, menyatu dalam sebuah kesatuan gerak. Gerakan tubuh bukan sekedar interprestasi dari fisik semata-mata, tapi juga batin. Roso. Perasaan. Memang ada sebuah motif di sana. Pemerintahan Sang Amurwabhumi agaknya mengusahakan harmoni antara kepercayaan Hindu dan Budha. Di kraton Yogyakarta ada ketentraman budaya yang selalu diupayakan agar ia terawat baik, bagi kehidupan juga bagi bangsanya