Tampilkan postingan dengan label Story daerah kalimantan tengah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story daerah kalimantan tengah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Oktober 2015

KESENIAN TARI TARI JEPIN LEMBUT DAERAH KALIMANTAN TENGAH

Tari Jepin Lembut adalah tari tradisional Melayu yang berasal dan berkembang di Kalimantan Barat. Tari ini ditampilkan oleh dua orang laki-laki penari dengan iringan musik perkusi dan lantunan syair-syair Islami. Alat musik yang digunakan adalah gambus, gendang, dan ketipung, yang dimainkan dengan irama padang pasir. Syair-syair Islami yang dilantunkan berisi puji-pujian kepada Allah SWT, Nabi Muhammad SAW, dan kewajiban atau larangan menurut ajaran Islam.
Masyarakat Kalimantan Barat percaya bahwa tari Jepin Lembut berasal dan berkembang di Kerajaan Sambas. Tari ini muncul setelah Kerajaan Sambas memperoleh pengaruh dari ajaran Islam dan berubah menjadi Kesultanan Sambas. Pada saat itu, tari Jepin Lembut berfungsi sebagai media dakwah, yaitu untuk mengislamkan keluarga Kerajaan Sambas. Pada mulanya, tari ini hanya dimainkan oleh keluarga kerajaan untuk menyemarakkan acara-acara seperti pernikahan, khitanan, atau upacara potong rambut pada saat kelahiran anak. Namun, tari ini lambat laun mulai dipentaskan oleh masyarakat umum seiring penyebaran Agama Islam yang semakin luas.

Rabu, 21 Oktober 2015

KESENIAN TARI TAMBUN & BUNGA DAERAH KALIMANTAN TENGAH

Tarian Tambun dan Bunga berasal dari daerah palangkaraya, Kalimantan Tengah. Tarian ini merupakan tari yang mengisahkan kepahlawanan Tambun dan Bungai dalam mengusir musuh yang akan merampas hasil panen rakyat. Tambun dan bungai adalah pejuang di Kalimantan Tengah. Tambun dan Bungai adalah tokoh legenda suku dayak ot Danum yang tinggal di tengah pulau Kalimantan khususnya wilayah Kabupaten gunung Mas. Tambun dan Bungai adalah saudara dari ayah mereka yang merupakan adik-kakak. Kedua orang ini, Tambun dan Bungai memiliki perasaan yang sama yaitu jika salah satu diantara mereka bersedih maka yang satu akan ikut merasakan kesedihan yang sama dialaminya. Keduanya memiliki karakter dan sifat yang sama. Mereka memiliki watak yang cerdas, lemah lembut, peramah, suka menolong sesama, sedikit menerima banyak memberi, cepat kaki ringan tangan, bijaksana, dan pantang menyerah untuk membela kebenaran.
Salah satu peristiwa penting yang memjadikan Tambun dan Bungai sebagai pejuang di Kalimantan Selatan adalah mereka selalu menang dalam pertempuran melawan musuh yang akan merampas tanah dan panen masyarakat setempat. Mereka akhirnya mendapat gelar dari Nyai Undang raja di Pematang Sawang yaitu gelar “Tumenggung Tambun Terjun Ringkin Duhung dan “Tumenggung Bungai Andin Sindai”.

Atas semua perjuangan Tambun dan Bungai, banyak orang yang menciptakan kebudayaan untuk mengenang Tambun dan Bungai salah satunya adalah Tarian Tambun dan Bungai.

Rabu, 07 Oktober 2015

KESENIAN TARI BALEAN DADAS DAERAH KALIMANTAN TENGAH

TARIAN TRADISIONAL DAERAH KALIMANTAN TENGAH
Tarian Balean Dadas adalah tarian kebudayaan masyarakat Kalimantan Tengah untuk meminta kesembuhan kepada tuhan bagi masyarakat yang sakit. Para penari Balean Dadas dengan memakai pakaian adat dayak yang khas penuh warna seperti hitam, putih, merah, hijau, dan kuning melakukan tarian Balean Dadas untuk memohon kesembuhan kepada Ranying Hatala langit (Tuhan) bagi mereka yang sakit. Selain itu, biasanya seorang dukun perempuan atau Balean Dadas ikut dalam tarian ini.
Dengan kostum berbalut kain lima warna ciri khas dayak; hitam, putih, merah, kuning, hijau, mereka tampil enerjik sekali di depan para undangan. Tidak ketinggalan beberapa aksesoris seperti gelang, kaling taring, janur dan perlengkapan lainnya balanai, lilin dan damar memberikan kesan bahwa mereka tak hanya menghibur penontoh namun membuat pertunjukan sedikit bernuansa mistis.
Saat ini, tarian Balean Dadas lebih banyak dilakukan pada saat acara-acara penyambutan atau peresmian. Hal ini mengingat bahwa dengan kemodernan proses menyembuhkan bisa dilakukan dengan cara yang lebih ilmiah. Akan tetapi kegiatan tarian Balean Dadas ini masih dilakukan oleh suku Dayak pedalaman.